JEJAK BUDAYA NGESTI PANDAWA

 

Ditulis oleh: Edi Wahyu Kurniawan ·

Bagikan ke WhatsApp Bagikan ke Facebook Bagikan ke Twitter / X

Seni Tari dalam Wayang Topeng Malangan

Keunikan yang terdapat pada Wayang Topeng Malangan adalah adegan yang diperankan oleh tiap karakter menggunakan tarian sebagai media untuk menggambarkan alur cerita yang dituturkan oleh dalang, sehingga musik tradisional sebagai pengiring tak terpisahkan dalam tiap pementasan kesenian ini. 

 Di malang sendiri untuk kesenian topeng terbagi menjadi tiga aliran kewilayahan, ada malang elor atau utara, malang kidul atau malang selatan dan malang wetan atau malang timur, untuk yang sebelah timur sungai brantas seperti Jabung, tumpang gerakan tarinya lebih dominan kearah gerakan yang halus meskipun melakonkan tokoh sabrang yang berkarakter keras, sedangkan karakter untuk malang timur gerakanya cenderung keras meskipun menarikan lakon yang berkarakter halus. 

 Di malang ada tiga sumber cerita atau jenis lakonan dalam pertunjukan wayang topeng, yang pertama adalah cerita panji, cerita purwo dan cerita menak, cerita menak menceritakan persebaran islam di tanah jawa cerita menak dulu sering dipentaskan di daerah kalipare untuk kostumnya mencerminkan budaya islam ada yang pakai jubah dan surban namun untuk untuk saat ini cerita menak sudah tidak ada lagi yang memainkan, 

 Secara umum cerita yang sering disajikan dalam pentas wayang topeng malangan biasanya bersumber dari kisah Panji yang berlatar belakang masa kerajaan Kediri di abad 16 dan 17 yang bertemakan berdirinya kerajaan kediri dan kisah percintaan antara Raden Panji dan Dewi Sekrtaji demikian pula adanya tokoh-tokoh lain seperti Dewi Ragil Kuning, Raden Gunung Sari, Raden Klono Sewandana, dan Bapang Jaya Sentika. 

Selain kisah panji ada yang berbeda dengan karakter topeng malanganan yang ada di Dusun Lowok Desa Permanu Kecamatan Pakisaji Kabupaten Malang. Ciri Khusus Karakter wayang topeng malangan yang ada di dusun lowok didominasi oleh kisah-kisah pewayangan Purwa dengan mengambil cerita dari epos Mahabharata dan Ramayana dengan gerak tari yang berkarakter lebih tegas namun tetap luwes dalam setiap gerakanya, tentu tidak ketinggalan pula dengan guyonan-guyonan (candaan) yang dilakonkan oleh tokoh Punakawan Semar, Gareng, Petruk dan Bagong. Cerita Purwa sendiri batasanya sangat banyak dan karakternya bisa sampai ratusan, secara umum karakter purwo ini lebih dekat dengan situasi sosial masyarakat terutama di tanah jawa. 

 Bagi masyarakat dusun lowok Desa Permanu, berkesenian tidak hanya sekedar hoby, namun sudah merupakan bagian dari kehidupan masyarakat itu sendiri, dalam persiapan menghadapi perform ataupun tidak, latihan berkesenian tetap dilakukan secara konsisten. Sedemikian organik dan telah melembaganya budaya topeng malangan di dusun lowok desa Permanu dengan telah memiliki karakter khas wayang topeng purwo yang berlangsung pada Sanggar Budaya “Ngesti Pandawa”. Maka menjadi sangat penting untuk menyusun biografi topeng Malangan “Ngesti Pandawa”. Sehingga dokumen tersebut dapat menjadi panduan bagi komunitas penggiat budaya topeng Malangan “Ngesti Pandawa” dalam mencitrakan diri kepada khalayak publik. Sekaligus sebagai warisan sejarah kepada generasi penerus “Ngesti Pandawa”.

Ciri Khas Topeng Malangan di Dusun Lowok

Di Dusun Lowok, karakter topeng didominasi oleh cerita Purwa seperti Mahabharata dan Ramayana. Gerak tarinya cenderung tegas namun tetap luwes. Cerita dilengkapi dengan tokoh Punakawan seperti Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong yang menghadirkan kelucuan dan kritik sosial.

Ingin tahu lebih banyak tentang kegiatan Ngesti Pandawa?
Kunjungi sanggar kami di Dusun Lowok atau ikuti aktivitas kami di media sosial.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama